Kamis, 22 November 2012

Contoh Laporan hasil observasi


KATA PENGANTAR
            Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan kesehatan untuk dapat menyusun laporan ini, sehingga laporan ini dapat saya berikan kepada ibu Siti Halimah, S.Pd. Saya mengucapkan terima kash kepada semua pihak yang mendukung termasuk ibu guru. Saya menyadari bahwa laporan ini masih belum sempurna, maka saya meminta maaf atas kesalahan-kesalahan tersebut. Semoga laporan ini dapat berguna bagi pembaca. Selamat membaca laporan yang saya buat ini.



Balikpapan, 2 Oktober 2012


Penulis




DAFTAR ISI
Kata Pengantar ………………………………………………………………1
Daftar Isi …………………………………………………......…………2
Bab I Pendahuluan ……………………………………………………...3
1.1  Latar Belakang ………………………………………………3
1.2  Maksud dan Tujuan …………………………………………3
Bab II Pembahasan ……………………………………………………4
Bab III Penutup …..……………………………………………………7
            3.1 Kesimpulan ……………………………….....……………7
3.2 Penutup ……………………………………………………7

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Jika membuat suatu laporan, perlu di dapatkan data-data yang akurat. Maka, kita harus memerlukan observasi. Dengan adanya observasi, maka laporan akan menjadi bagus dan benar. Maka itu, observasi sangat dibutuhkan untuk menyusun sebuah laporan. Dengan diberikannya tugas laporan observasi, maka pengamatan yang sudah sangat lama diperlukan demi membangun sebuah laporan. Ibaratnya, seperti rumah yang harus ada dasarnya, maka laporan harus ada observasi.
1.2  Maksud dan Tujuan
Maksud dari laporan ini adalah untuk memenuhi tugas dari ibu Siti Halimah, S.Pd. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan museum mulawarman sebagai museum tempat peninggalan kerajaan kutai secara mendalam.


BAB II
PEMBAHASAN
            Museum Mulawarman adalah istana dari kesultanan kutai kartanegara dibangun pada 1963 sebagai pengganti istana yang sebelumnya terbakar dan diresmikan pada tanggal 25 November 1971 oleh Gubernur Abdoel Wahab Sjahranie, lalu diserahkan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 18 Februari 1976.
            Telah dibangun Balai kedaton sebagai tempat kediaman Sultan Aji Muhammad Salehuddin II yang telah dinobatkan kembali pada tahun 2002. Di dalam lingkungan Istana Kesultanan terdapat pemakaman keluarga kerabat Kerajaan Kutai Kartanegara serta Masjid Jami’ Aji Amir Hasanuddin sebagai saksi masuknya Islam di Kutai.
Museum yang sebelumnya adalah bangunan Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara ini didirikan pada tahun 1932 oleh Pemerintah Belanda yang menyerahkan Keraton pada Sultan Aji Muhammad Parikesit pada tahun 1935. Bahan Bangunannya didominasi oleh beton mulai dari ruang bawah tanah, lantai, dinding, penyekat, hingga atap. Di halaman depan museum terdapat duplikat Patung Lembuswana yang merupakan lambang Kerajaan Kutai Kartanegara. Arsitektur dari museum ini mengadopsi dari arsitektur tradisional Suku Dayak yang ada di Kutai. Jarak tempuh museum Mulawarman dari Balikpapan berkisar 3 jam perjalanan darat dan dari samarinda berkisar 45 menit.
Di dalam Museum Mulawarman tersimpan benda-benda sejarah yang pernah digunakan oleh Kesultanan seperti Singgasana, Tempat Peraduan, Pakaian Kebesaran, Tombak, Keris, Meriam, Kalung, dan Prastasi Yupa serta Koleksi Keramik Cina. Setiap tahun dilaksanakan upacara Erau yaitu tarian Khas Kedaton Upacara Adat dan Mengulur Naga di Desa Kutai Lama. Dimana pada setiap pelaksanaan Erau juga ditampilkan atraksi Seni Budaya baik berupa Tarian Tradisional dan Upacara Adat dari berbagai Suku lainnya di Indonesia serta mancanegara.
Museum Mulawarman terdiri dari 2 lantai. Di lantai bawah terdapat koleksi keramik Cina. Sedangkan lantai 1 berisi koleksi peninggalan bercorak kesenian. Di belakang museum, pengunjung bisa berbelanja cinderamata khas budaya Dayak, batu perhiasaan, maupun cindera mata lainnya.
Di dalam Museum Mulawarman ini tersimpan benda-benda yang mempunyai nilai sejarah atau seni yang tinggi yang pernah digunakan oleh Kesultanan seperti :
1.     Singgasana, sebagai tempat duduk Raja dan Permaisuri. Kursi ini terbuat dari kayu, dudukan dan sandarannya diberi berlapis kapuk yang berbungkus dengan kain yang berwarna kuning, sehingga tempat duduk dan sandaran kursi tersebut terasa lembut. Kursi ini dibuat dengan gaya Eropa, penciptanya adalah seorang Belanda bernama Ir. Vander Lube pada tahun 1935.
2.     Pantung Lembuswana, lambang Kesultanan Kutai, dibuat di Birma pada tahun 1850 dan tiba di Istana Kutai pada tahun 1900. Lembuswana diyakini sebagai kendaraan tunggangan Batara Guru. Nama lainnya adalah Paksi Liman Janggo Yoksi, yakni Lembu yang bermuka gajah, bersayap burung, bertanduk seperti sapi, bertaji dan berkuku seperti ayam jantan, berkepala raksasa dilengkapi pula dengan berbagai jenis ragam hias yang menjadikan patung ini terlihat indah.
3.     Kalung Uncal, benda ini merupakan atribut dan benda kelengkapan kebesaran Kesultanan Kutai Kartanegara yang digunakan pada waktu penobatan Sultan Kutai menjadi Raja atau pada waktu Sultan merayakan ulang tahun kelahiran dan penobatan Sultan serta acara sakral lainnya.
4.     Meriam Sapu Jagad Peninggalan VOC, Belanda.
5.     Prastasi Yupa, yang terdapat di Museum ini adalah tiruan dari Yupa yang asli yang terdapat di Museum Nasional di Jakarta. Prastasi Yupa yang asli yang ditemukan di bukit Brubus Kecamatan Muara Kaman, abad ke-4. Prastasi ini menadakan dimulainya zaman sejarah di Indonesia yang merupakan bukti tertulis pertama yang ditemukan berupa aksara Pallawa dalam bahasa Sansekerta.
6.     Seperangkat Gamelan dari Keraton Yogyakarta pada tahun 1855.
7.     Arca Hindu
8.     Seperangkat Meja Tamu peninggalan Kesultanan Bulungan
9.     Ulap Doyo, hasil kerajinan Suku Dayak Benuaq.
10. Minirama tentang sejarah Kerajaan Kutai Kartanegara.
11.  Koleksi Numismatika (mata uang dan alat tukar lainnya).
12.  Koleksi Keramik dari Cina, Jepang, Vietnam, dan Thailand.
13.  Dan lain-lain.


BAB III

PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Museum Mulawarman merupakan salah satu sumber daya penghasilan daerah tenggarong. Museum Mulawarman adalah istana Kesultanan Kutai Kartanegara yang dibangun pada 1963 sebagai pengganti istana yang sebelumnya terbakar. Di dalam Museum Mulawarman terdapat peninggalan Kerajaan Kutai Kartanegara termasuk Prastasi Yupa.
3.2 Saran
     Seharusnya, pemerintah Tenggarong dan Kalimantan Timur dapat memanfaatkan dan Merawat Museum Mulawarman supaya dapat menghasilkan surplus bagi pemerintah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar